Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memberikan perhatian serius terhadap tren penurunan kontribusi sektor manufaktur dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Fenomena ini dipandang sebagai sinyal peringatan bagi stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional yang selama ini banyak bergantung pada sektor industri pengolahan.
Menurut Apindo, merosotnya peran manufaktur dalam PDB menunjukkan adanya tantangan besar yang dihadapi oleh para pelaku industri di tanah air. Penurunan ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan sektor industri tidak mampu mengimbangi kecepatan pertumbuhan sektor ekonomi lainnya, sehingga porsi kontribusinya terhadap total pendapatan nasional secara relatif menjadi berkurang.
Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena sektor manufaktur seharusnya menjadi mesin utama penggerak ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah tinggi serta menyerap tenaga kerja dalam skala besar. Jika tren penurunan ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi kebijakan yang tepat, dikhawatirkan daya saing industri nasional akan semakin tergerus, terutama dalam menghadapi gempuran produk impor dan perubahan dinamika pasar global.
Apindo menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap iklim investasi dan kemudahan berusaha di sektor industri. Penguatan ekosistem manufaktur dianggap krusial agar industri pengolahan kembali menjadi pilar utama ekonomi Indonesia, yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.
Sektor manufaktur sendiri merupakan bagian dari industri pengolahan yang mengubah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Di banyak negara berkembang, penguatan sektor ini sering kali menjadi kunci utama dalam proses transformasi ekonomi dari negara berbasis komoditas menjadi negara industri maju, yang dikenal dengan istilah industrialisasi.





