Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan pameran karya seni yang melibatkan anak-anak terdampak bencana di Kabupaten Aceh. Kegiatan ini dinilai bukan sekadar ajang pamer kreativitas, melainkan menjadi sarana penting dalam proses pemulihan psikologis atau trauma healing bagi para peserta.
Sebanyak 200 anak yang menjadi korban bencana turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Melalui goresan warna dan lukisan, anak-anak tersebut diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan, kecemasan, serta harapan mereka yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Pendekatan seni terapi ini diharapkan mampu membantu mereka mengatasi trauma mendalam akibat bencana yang melanda wilayah tempat tinggal mereka.
Menko PM menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik yang rusak, tetapi juga harus menyentuh aspek kesehatan mental, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak. Menurutnya, dukungan psikososial yang tepat akan membantu anak-anak kembali memiliki semangat hidup dan kepercayaan diri untuk melanjutkan masa depan mereka.
Kegiatan pameran ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara berbagai pihak dalam memberikan pendampingan psikologis sangat krusial. Dengan menjadikan seni sebagai medium penyembuhan, diharapkan beban mental yang dipikul oleh para korban bencana dapat berkurang secara bertahap, sehingga mereka dapat kembali beraktivitas dengan normal dalam lingkungan sosialnya.
Secara umum, trauma healing bagi korban bencana alam merupakan bagian integral dari manajemen risiko bencana. Intervensi psikososial melalui seni, olahraga, atau permainan seringkali lebih efektif bagi anak-anak dibandingkan konseling formal. Hal ini dikarenakan dunia anak sangat lekat dengan imajinasi dan kreativitas, sehingga aktivitas seni dapat menjadi jembatan bagi terapis atau pendamping untuk memahami kondisi emosional korban sekaligus mengembalikan stabilitas psikologis mereka.






