Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, memberikan imbauan strategis kepada masyarakat yang bermukim di kawasan lereng Gunung Merapi. Beliau mendorong warga setempat untuk mulai mengalihkan mata pencaharian mereka dari aktivitas penambangan pasir menuju sektor pertanian, khususnya budidaya kopi.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya transformasi ekonomi masyarakat di wilayah rawan bencana. Penambangan pasir yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi utama dinilai memiliki risiko lingkungan dan keselamatan yang cukup tinggi, mengingat lokasi aktivitas tersebut berada di zona aktif Gunung Merapi. Dengan mengalihkan fokus ke komoditas kopi, diharapkan masyarakat dapat memperoleh penghasilan yang lebih berkelanjutan sekaligus menjaga kelestarian alam.
Sultan HB X menekankan bahwa potensi lahan di lereng Merapi sangat mendukung untuk pengembangan perkebunan kopi berkualitas tinggi. Selain memberikan nilai tambah secara ekonomi, peralihan profesi ini juga diharapkan dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang seringkali menyertai aktivitas tambang pasir skala besar di wilayah tersebut.
Program diversifikasi ekonomi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang dalam membangun ketahanan ekonomi warga lereng Merapi. Dengan dukungan pembinaan pertanian yang tepat, komoditas kopi dari wilayah ini diprediksi mampu bersaing di pasar lokal maupun nasional, sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat tanpa harus bergantung pada eksploitasi sumber daya mineral yang terbatas.
Kawasan lereng Gunung Merapi memang dikenal memiliki tanah vulkanik yang sangat subur, menjadikannya wilayah yang ideal untuk berbagai jenis tanaman perkebunan. Selain kopi, wilayah ini juga menjadi pusat produksi berbagai hasil bumi yang menjadi penopang ekonomi utama bagi ribuan warga di Kabupaten Sleman dan Klaten, serta menjadi daya tarik wisata alam bagi pengunjung yang datang ke Yogyakarta.






