Amerika Serikat secara resmi mengakhirikankan seluruhkan kehadirannya di Irak dengan menarik pasukan terakhir mereka pada Rabu (30/9/2026). Penarikan pasukan ini menandai berakhirnya keterlibatan militer Washington yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade di wilayah tersebut.
Keputusan untuk mengosongkan wilayah Irak ini terjadi 23 tahun setelah Amerika Serikat meluncurkan invasi besar-besaran pada tahun 2003. Saat itu, operasi militer dilakukan dengan tujuan utama untuk menggulingkan rezim mantan Presiden Irak, Saddam Hussein, yang memicu perubahan politik besar di Timur Tengah.
Menanggapi peristiwa bersejarah ini, pemerintah Irak menyambut positif langkah Amerika Serikat. Sebagai bentuk perayaan atas kembalinya kendali penuh negara terhadap wilayahnya, Irak secara resmi menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kedaulatan Nasional. Momentum ini dianggap sebagai simbol kemerdekaan penuh dan berakhirnya intervensi asing di tanah mereka.
Penarikan pasukan ini menjadi titik balik signifikan dalam hubungan diplomatik antara Bagdad dan Washington. Setelah bertahun-tahun menghadapi konflik internal dan tantangan keamanan, Irak kini berupaya memperkuat stabilitas nasionalnya secara mandiri tanpa ketergantungan pada kehadiran militer asing.
Secara historis, Irak telah menjadi salah satu pusat konflik paling kompleks di dunia selama dua dekade terakhir. Invasi Amerika Serikat tahun 2003 tidak hanya mengubah struktur kekuasaan di Irak, tetapi juga menciptakan gelombang instabilitas regional yang berkepanjangan. Kini, dengan berakhirnya kehadiran pasukan AS, Irak diharapkan dapat fokus pada pembangunan kembali infrastruktur negara dan pemulihan stabilitas politik demi kesejahteraan masyarakatnya.






