Sebanyak 25 jurnalis telah resmi menyelesaikan program pelatihan koresponden perang yang digelar di Ankara, Turki. Program intensif bertajuk War Journalism Training ini resmi ditutup pada Jumat (25/9/2026) setelah para peserta menjalani masa pelatihan selama 12 hari.
Kegiatan ini merupakan edisi ke-30 dari rangkaian pelatihan pewarta perang yang diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Anadolu Agency. Fokus utama dari program ini adalah membekali para jurnalis dengan keterampilan teknis dan pengetahuan strategis yang diperlukan saat meliput di wilayah konflik, guna memastikan keselamatan awak media sekaligus menjaga kualitas informasi yang disampaikan kepada publik.
Selama dua pekan pelatihan, para peserta mendapatkan materi komprehensif mengenai etika peliputan perang, manajemen risiko di lapangan, hingga teknik komunikasi di zona bahaya. Pelatihan ini dirancang agar jurnalis tidak hanya mampu menyajikan berita yang akurat dan objektif, tetapi juga memiliki kesiapsiagaan fisik dan mental dalam menghadapi situasi ekstrem yang sering terjadi di medan tempur.
Keberhasilan 25 jurnalis dalam menuntaskan program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi dunia jurnalistik internasional, terutama dalam hal standar keamanan peliputan. Dengan meningkatnya kompleksitas konflik global saat ini, peran koresponden perang yang terlatih menjadi sangat krusial untuk menghindari kesalahan fatal di lapangan serta meminimalisir risiko jatuhnya korban dari kalangan pekerja media.
Secara umum, peliputan di zona konflik merupakan salah satu tugas jurnalistik paling berisiko tinggi. Koresponden perang seringkali harus berhadapan dengan ancaman serangan fisik, penculikan, hingga tekanan psikologis yang berat. Oleh karena itu, pelatihan khusus mengenai keselamatan kerja jurnalis (journalism safety) menjadi standar penting yang diadopsi oleh banyak lembaga media dunia untuk melindungi hak atas informasi sekaligus menjamin keselamatan nyawa para pewarta.






