Generasi Z kini membawa paradigma baru dalam merencanakan perjalanan wisata. Alih-alih menggunakan jasa agen perjalanan konvensional, kelompok usia ini lebih mengandalkan ekosistem digital untuk menyusun seluruh rangkaian liburan mereka, mulai dari pencarian inspirasi hingga pengaturan jadwal harian.
Media sosial memegang peranan krusial sebagai pintu masuk utama. Visual yang menarik di platform seperti TikTok atau Instagram seringkali menjadi pemicu utama bagi mereka dalam menentukan destinasi yang ingin dikunjungi. Konten video pendek yang menampilkan keindahan tersembunyi suatu tempat dianggap lebih persuasif dibandingkan brosur wisata tradisional.
Setelah menentukan destinasi, Generasi Z memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk efisiensi waktu. AI digunakan untuk menyusun itinerary atau rencana perjalanan yang mendetail, mulai dari rekomendasi tempat wisata, urutan kunjungan, hingga estimasi waktu perjalanan. Hal ini memungkinkan mereka mendapatkan rencana perjalanan yang terpersonalisasi dalam waktu singkat.
Namun, meskipun sangat mengandalkan AI, Generasi Z tidak menelan mentah-mentah rekomendasi tersebut. Mereka tetap melakukan verifikasi melalui Google Review sebelum benar-benar mengunjungi suatu tempat. Validasi dari pengalaman nyata pengguna lain dianggap sebagai standar kebenaran untuk memastikan bahwa kualitas tempat wisata, hotel, atau restoran yang disarankan oleh AI memang sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Kombinasi antara inspirasi visual dari media sosial, efisiensi perencanaan berbasis AI, dan validasi melalui ulasan pengguna menciptakan pola perjalanan yang lebih mandiri, terukur, dan minim risiko kekecewaan bagi para pelancong muda ini.






