Kementerian Pariwisata mencatat adanya pergeseran preferensi dalam perilaku berwisata di kalangan generasi muda, khususnya kelompok milenial dan Generasi Z. Saat ini, para wisatawan muda cenderung tidak lagi hanya mencari destinasi yang populer untuk sekadar berfoto, melainkan lebih mengutamakan pengalaman perjalanan yang memiliki nilai lebih dan bermakna.
Perubahan tren ini menunjukkan bahwa aspek kualitas pengalaman menjadi prioritas utama. Wisatawan dari kelompok usia tersebut kini lebih tertarik pada aktivitas yang memungkinkan mereka berinteraksi secara mendalam dengan budaya lokal, mempelajari hal baru, hingga berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar tempat yang mereka kunjungi. Hal ini mengindikasikan bahwa kepuasan dalam berwisata kini diukur dari sejauh mana perjalanan tersebut mampu memberikan dampak emosional atau pengetahuan baru bagi pelakunya.
Kecenderungan ini menjadi sinyal penting bagi para pelaku industri pariwisata untuk mulai menggeser strategi pemasaran dan pengembangan produk wisata mereka. Alih-alih hanya mengandalkan keindahan visual atau kemewahan fasilitas, pengelola destinasi diharapkan dapat menciptakan paket wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) yang autentik. Dengan demikian, daya tarik wisata tidak lagi hanya terletak pada objeknya, tetapi pada narasi dan interaksi yang terjadi selama kunjungan berlangsung.
Fenomena ini juga mencerminkan karakteristik Generasi Z dan milenial yang lebih kritis terhadap isu keberlanjutan dan autentisitas. Mereka lebih menghargai kejujuran budaya dan keaslian suasana dibandingkan dengan atraksi buatan yang terkesan artifisial. Oleh karena itu, pengembangan wisata berbasis komunitas atau desa wisata diprediksi akan semakin diminati karena menawarkan kedekatan dengan kehidupan masyarakat lokal yang nyata.






