Fenomena penurunan jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia menjadi perhatian serius. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi penyusutan jumlah masyarakat kelas menengah sebanyak 8,5 juta orang dalam kurun waktu lima tahun terakhir, tepatnya sepanjang periode 2018 hingga 2023.
Kondisi ini tergolong ironis mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif dalam tujuh tahun terakhir justru menunjukkan angka yang signifikan, yakni mencapai 35 persen. Ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi makro dengan daya beli masyarakat kelas menengah mengindikasikan adanya tantangan dalam distribusi kesejahteraan yang merata.
Menanggapi permasalahan tersebut, InFast Bestari mengusulkan sebuah solusi inovatif melalui penerapan insentif berbasis teknologi blockchain. Penggunaan teknologi ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi mereka dan mencegah penurunan kelas sosial lebih lanjut.
Implementasi blockchain dipandang mampu menciptakan sistem ekonomi yang lebih transparan, efisien, dan inklusif. Dengan adanya insentif yang tepat sasaran, diharapkan masyarakat kelas menengah dapat kembali memperkuat fondasi finansial mereka, sehingga stabilitas ekonomi domestik dapat terjaga di tengah fluktuasi pasar global.
Secara umum, kelas menengah memiliki peran krusial sebagai penggerak utama konsumsi domestik dalam perekonomian Indonesia. Penurunan jumlah kelompok masyarakat ini dapat berdampak pada melambatnya pertumbuhan sektor ritel dan jasa, karena daya beli mereka merupakan motor penggerak pasar dalam negeri. Oleh karena itu, berbagai upaya pemulihan ekonomi melalui inovasi teknologi digital kini mulai banyak dilirik sebagai alternatif solusi jangka panjang.






