Ketergantungan Uni Eropa (EU) terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dinilai masih sangat tinggi, terutama dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan yang muncul di wilayah timur. Seorang komisioner menekankan bahwa kehadiran NATO menjadi instrumen krusial bagi negara-negara anggota EU untuk menjaga stabilitas kawasan dari potensi gangguan eksternal.
Kondisi geopolitik yang dinamis memaksa Uni Eropa untuk tidak hanya mengandalkan dukungan sekutu, tetapi juga mulai memikirkan langkah strategis dalam memperkuat sistem pertahanan mandiri. Meskipun NATO memberikan payung keamanan yang kokoh, terdapat dorongan agar negara-negara EU meningkatkan tanggung jawab mereka dalam sektor pertahanan. Hal ini mencakup peningkatan anggaran militer serta koordinasi strategi keamanan yang lebih terintegrasi antarnegara anggota.
Penguatan tanggung jawab pertahanan ini dipandang perlu agar Uni Eropa memiliki daya tawar yang lebih kuat dan tidak sepenuhnya bergantung pada satu aliansi saja. Dengan memperbesar kontribusi dalam pertahanan kolektif, EU diharapkan mampu merespons krisis keamanan dengan lebih cepat dan efektif, sekaligus memperkokoh kemitraan strategis yang sudah terjalin dengan NATO.
Langkah ini juga dipandang sebagai bagian dari evolusi politik luar negeri dan keamanan Uni Eropa. Fokus utamanya adalah menciptakan keseimbangan antara kerja sama multilateral melalui NATO dan pengembangan kapabilitas pertahanan internal yang lebih mumpuni guna mengantisipasi tantangan keamanan di masa depan.




