Wakil Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, memberikan peringatan keras mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Menurut Diaz, proses pemilahan sampah menjadi langkah krusial untuk mencegah terjadinya bencana kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kekhawatiran ini muncul akibat volume timbulan sampah yang terus meningkat dan menumpuk di berbagai TPA. Penumpukan sampah organik dan anorganik secara tercampur dapat memicu reaksi kimia yang menghasilkan gas metana. Gas ini sangat mudah terbakar dan sering kali menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran hebat di area pembuangan akhir yang sulit dipadamkan.
Diaz menjelaskan bahwa dengan melakukan pemilahan sampah, beban TPA dapat dikurangi secara signifikan. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat didaur ulang. Dengan demikian, material yang benar-benar berakhir di TPA hanya sampah residu yang tidak bisa diolah lagi, sehingga risiko akumulasi gas berbahaya dapat diminimalisir.
Langkah preventif ini diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat dalam mengubah pola konsumsi dan pembuangan sampah. Kesadaran untuk memilah sampah dari rumah dinilai sebagai solusi jangka panjang yang paling efektif untuk menjaga stabilitas lingkungan dan keselamatan operasional di wilayah TPA.
Secara umum, permasalahan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dan pusat. TPA yang dikelola dengan sistem open dumping (pembuangan terbuka) cenderung lebih rentan terhadap kebakaran dan pencemaran lingkungan dibandingkan dengan sistem sanitary landfill. Oleh karena itu, transformasi manajemen sampah menuju ekonomi sirkular kini terus didorong untuk mengurangi ketergantungan pada pembuangan akhir.






