Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Gunung Merapi dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data pengamatan yang dilakukan sejak 18 hingga 24 September 2026, gunung api aktif tersebut menunjukkan intensitas aktivitas yang tergolong tinggi.
Salah satu indikator utama peningkatan aktivitas ini adalah teramatinya guguran lava yang terjadi hingga 100 kali selama periode pengamatan tersebut. Fenomena guguran lava ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang karena mencerminkan kondisi vulkanis yang masih tidak stabil di puncak gunung.
Atas dasar data teknis dan pemantauan rutin tersebut, BPPTKG menetapkan status Gunung Merapi pada level Siaga. Penetapan status ini bertujuan agar masyarakat, terutama yang berada di kawasan rawan bencana, tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya yang mungkin timbul dari aktivitas vulkanik yang sedang berlangsung.
BPPTKG terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap deformasi tubuh gunung serta aktivitas kegempaan untuk mengantisipasi segala kemungkinan perubahan status atau potensi erupsi yang lebih besar. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti arahan dari otoritas terkait dan menjauhi zona bahaya yang telah ditetapkan guna menghindari risiko keselamatan.
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di dunia yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena aktivitasnya yang tinggi, kawasan di sekitar lereng Merapi telah ditetapkan sebagai zona risiko bencana, di mana sistem peringatan dini dan manajemen evakuasi menjadi prioritas utama pemerintah setempat untuk meminimalisir dampak korban jiwa saat terjadi erupsi.






