Alami KDRT Sejak Hamil Dua Bulan, Katryna Cari Keadilan ke Polisi
Jakarta - Katryna, seorang ibu hamil berusia 28 tahun, mengungkapkan pengalaman pahitnya sebagai korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sejak usia kehamilannya menginjak dua bulan. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Jakarta, Katryna menceritakan bagaimana kehidupannya berubah drastis setelah menikah dengan suaminya yang berinisial R.
Menurut pengakuan Katryna, KDRT yang dialaminya berupa fisik dan psikologis. Ia mengatakan bahwa suaminya sering kali melontarkan kata-kata kasar dan bahkan melakukan penganiayaan fisik. "Saya merasa terjebak dan tidak memiliki siapa-siapa untuk meminta pertolongan," ujarnya dengan suara bergetar.
Langkah Melapor ke Polisi
Setelah berjuang sendirian selama beberapa bulan, Katryna akhirnya memutuskan untuk melapor ke pihak kepolisian pada awal minggu ini. Ia berharap, dengan melapor, kasus KDRT yang dialaminya dapat mendapatkan perhatian dan penanganan serius. “Saya ingin keadilan. Tidak ada perempuan yang seharusnya mengalami apa yang saya alami,” katanya.
- **Pelaporan KDRT**: Katryna melapor di Polres Jakarta Selatan dengan didampingi oleh tim advokasi.
- **Pihak Berwenang**: Polisi berjanji akan memberikan perlindungan dan penanganan yang cepat terhadap kasus ini.
- **Dukungan Moral**: Katryna mengaku mendapatkan dukungan dari organisasi perempuan dan teman-teman dekatnya.
Masyarakat Diharapkan Peduli
Kasus yang dialami Katryna adalah salah satu dari banyak kasus KDRT yang masih terjadi di Indonesia. Menurut data dari Komnas Perempuan, jumlah kasus KDRT meningkat selama pandemi, dengan banyak wanita terisolasi di rumah bersama pelaku kekerasan.
Aktivis perempuan mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap isu-isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan memberikan dukungan kepada para korban. "Kita harus bersatu untuk memberikan suara kepada mereka yang tak berdaya dan menuntut keadilan,” ungkap seorang aktivis saat memberikan dukungan untuk Katryna.
Katryna berharap, dengan melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya, ia bisa memberikan inspirasi bagi wanita lain untuk berani berbicara dan mencari keadilan tanpa rasa takut. “Saya ingin semua wanita tahu bahwa mereka tidak sendiri dan ada jalan untuk keluar,” tutupnya.