Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terkait perubahan pola cuaca di wilayah Jawa Timur. Berdasarkan analisis terbaru, awal musim hujan di provinsi tersebut diprediksi akan mengalami keterlambatan atau mundur dari jadwal biasanya.
Kondisi ini dipicu oleh fenomena El Nino yang menyebabkan berkurangnya curah hujan secara signifikan di berbagai wilayah Indonesia. Akibat dampak El Nino tersebut, BMKG memperkirakan bahwa musim hujan di Jawa Timur baru akan dimulai pada Desember 2026.
Lebih lanjut, BMKG menekankan bahwa kondisi kekeringan atau minimnya curah hujan tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah. Terdapat beberapa daerah di Jawa Timur yang diprediksi akan mengalami keterlambatan lebih ekstrem, di mana hujan diperkirakan baru akan turun pada Januari 2027.
Pergeseran jadwal musim hujan ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama para petani yang mengandalkan air hujan untuk memulai masa tanam. Antisipasi terhadap ketersediaan sumber daya air menjadi krusial guna mencegah terjadinya gagal panen akibat kemarau yang berkepanjangan.
Fenomena El Nino sendiri merupakan anomali iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Dampak global dari fenomena ini sering kali menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang berujung pada musim kemarau yang lebih panjang dan risiko kebakaran hutan serta lahan yang meningkat.






