Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan keras mengenai dampak buruk penggunaan rokok elektronik atau vape bagi kesehatan manusia. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, lembaga riset pemerintah tersebut menemukan korelasi signifikan antara penggunaan vape dengan berbagai gangguan kesehatan serius.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengungkapkan bahwa penggunaan vape diklaim dapat menjadi pemicu penyakit diabetes dengan tingkat risiko mencapai 100 persen. Temuan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa efek negatif rokok elektronik tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan, tetapi juga berdampak pada gangguan metabolisme tubuh.
Selain risiko diabetes, BRIN juga memaparkan bahwa penggunaan vape berkaitan dengan munculnya 92 jenis penyakit paru. Berbagai kerusakan pada organ paru-paru ditemukan sebagai dampak dari paparan bahan kimia yang terkandung dalam cairan vape. Hal ini menegaskan bahwa anggapan vape sebagai alternatif yang lebih aman daripada rokok konvensional perlu ditinjau kembali berdasarkan bukti ilmiah.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih waspada terhadap tren penggunaan rokok elektronik. BRIN menekankan pentingnya pemahaman mengenai kandungan zat kimia dalam vape yang dapat merusak fungsi organ vital dalam jangka panjang.
Sebagai informasi tambahan, tren penggunaan rokok elektronik di Indonesia terus meningkat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda yang menganggapnya sebagai gaya hidup modern. Namun, berbagai organisasi kesehatan dunia, termasuk WHO, telah lama memperingatkan bahwa produk nikotin dalam bentuk apa pun memiliki risiko adiksi dan dampak jangka panjang bagi kesehatan jantung serta paru-paru.






