Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengungkapkan adanya tindakan pencurian yang menyasar peralatan pemantauan Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan konfirmasi resmi, sebanyak delapan unit baterai atau accu yang terpasang di stasiun pemantauan dilaporkan hilang diambil oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Kehilangan komponen vital ini berdampak langsung pada sistem operasional alat pemantau aktivitas vulkanik di kawasan tersebut. Baterai tersebut berfungsi sebagai sumber daya utama agar perangkat sensor dapat mengirimkan data aktivitas gunung api secara real-time kepada petugas pemantau di pusat kendali.
PVMBG menyayangkan aksi pencurian ini karena dapat mengganggu efektivitas pengawasan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Padahal, ketersediaan data yang akurat dan berkelanjutan sangat krusial untuk memberikan peringatan dini bagi masyarakat di sekitar wilayah pesisir jika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang membahayakan.
Saat ini, pihak terkait tengah mengupayakan langkah-langkah pemulihan agar fungsi pemantauan kembali normal sepenuhnya. Pengawasan di area stasiun pemantauan juga diharapkan dapat ditingkatkan guna mencegah terulangnya kejadian serupa yang dapat menghambat upaya mitigasi bencana geologi di wilayah tersebut.
Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api paling aktif di dunia yang muncul setelah letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883. Karena lokasinya yang berada di tengah laut, pemantauan aktivitasnya sangat bergantung pada stasiun-stasiun sensor otomatis yang dipasang di pulau-pulau sekitar. Gangguan pada alat pemantau ini dapat meningkatkan risiko keselamatan bagi masyarakat di pesisir Banten dan Lampung, mengingat potensi tsunami yang sering menyertai aktivitas vulkanik di wilayah tersebut.






