Ekspor Jatim Januari-Mei 2026 Terkoreksi 2,92 Persen, Migas Anjlok Paling Dalam
Jawa Timur, 14 Juni 2026 - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mengungkapkan bahwa nilai ekspor provinsi ini pada periode Januari hingga Mei 2026 mengalami penurunan sebesar 2,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk terganggunya pasokan bahan baku dan melambatnya permintaan dari pasar internasional.
Kepala BPS Jatim, Ahmad Saiful, menjelaskan bahwa sektor minyak dan gas (migas) menjadi penyebab utama terkoreksinya data ekspor Jatim. "Penurunan harga minyak global dan penurunan permintaan dari negara tujuan ekspor utama kita turut mempengaruhi kinerja sektor migas, yang mencatatkan anjlok hingga 15,3 persen dalam periode tersebut," ujarnya.
Detail Penurunan Ekspor
Berdasarkan data yang dirilis BPS, ekspor migas dari Jatim pada bulan Mei 2026 tercatat hanya mencapai 1,2 miliar dolar AS, turun drastis dari bulan-bulan sebelumnya. Sementara itu, sektor non-migas juga mengalami penurunan, meskipun tidak se-signifikan sektor migas.
- Sektor non-migas: Meskipun terdampak, sektor ini hanya mengalami penurunan sebesar 1,5 persen.
- Komoditas yang paling terpengaruh: Beras, kopi, dan rempah-rempah.
- Peningkatan ekspor: Beberapa komoditas seperti elektronik dan produk pertanian masih menunjukkan kinerja positif dengan peningkatan masing-masing 3,2 persen dan 2,1 persen.
Strategi Pemulihan Ekspor
Menanggapi situasi ini, berbagai pihak mulai mengusulkan strategi untuk memulihkan posisi ekspor Jatim. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, berencana memperkuat kerjasama dengan negara-negara tujuan utama ekspor melalui promosi dagang dan peningkatan kualitas produk.
"Kita harus beradaptasi dengan kondisi global yang cepat berubah, serta berinovasi agar produk kita tetap menjadi pilihan di mata konsumen internasional. Kita juga akan mendorong pelaksanaan pameran dagang dan misi dagang untuk membuka peluang baru," ungkap Khofifah.
Kesimpulan
Dengan purbawara penurunan yang terjadi pada periode Januari hingga Mei 2026, diharapkan langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah dan pelaku usaha dapat mengembalikan kinerja ekspor Jatim ke jalur positif. Sektor migas, sebagai kontributor besar dalam ekspor, perlu mendapat perhatian lebih lebih lanjut agar dapat bangkit kembali dari penurunan yang signifikan ini.