Fenomena astronomi Harvest Moon diprediksi akan terjadi pada Sabtu (26/9/2026) malam. Meski menjadi pusat perhatian masyarakat, otoritas terkait menegaskan bahwa peristiwa alam ini tidak memiliki kaitan dengan aktivitas tektonik maupun vulkanik di wilayah Indonesia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, muncul kekhawatiran di tengah masyarakat bahwa kemunculan Harvest Moon menjadi pertanda akan terjadinya gempa bumi atau erupsi gunung berapi. Namun, klaim tersebut dipastikan tidak benar. Secara ilmiah, posisi bulan dalam fase Harvest Moon tidak memicu aktivitas seismik atau peningkatan status gunung api.
Walaupun tidak berkaitan dengan bencana geologi, masyarakat justru diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Fokus utama peringatan ini ditujukan bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai. Hal ini dikarenakan fenomena bulan purnama cenderung memengaruhi gravitasi bumi yang berdampak pada peningkatan tinggi pasang air laut.
Kenaikan permukaan air laut tersebut berpotensi memicu terjadinya banjir rob di sejumlah titik rendah di sepanjang garis pantai. Oleh karena itu, warga di wilayah rawan banjir rob diimbau untuk memantau informasi terkini mengenai tinggi pasang air laut dan mempersiapkan langkah antisipasi guna meminimalisir dampak kerugian materiil maupun gangguan aktivitas harian.
Harvest Moon sendiri merupakan istilah untuk bulan purnama yang terjadi paling dekat dengan titik autumnal equinox, yakni saat matahari melintasi khatulistiwa menuju belahan bumi selatan. Fenomena ini secara tradisional sering dikaitkan dengan masa panen di berbagai belahan dunia karena cahaya bulan yang lebih terang memudahkan petani bekerja hingga malam hari.






