Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya tren penurunan yang signifikan pada jumlah wisatawan nasional (wisnas), yakni warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan wisata ke luar negeri. Berdasarkan data terbaru, tercatat penurunan jumlah pelancong mencapai hampir 20 persen pada Agustus 2026.
Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor ekonomi makro yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Salah satu penyebab utamanya adalah lonjakan harga tiket pesawat yang semakin mahal, sehingga biaya transportasi menjadi beban berat bagi calon wisatawan. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing turut memperparah situasi, karena biaya hidup dan pengeluaran selama berada di luar negeri menjadi jauh lebih tinggi.
Kombinasi antara biaya penerbangan yang meningkat dan kurs mata uang yang tidak stabil membuat banyak masyarakat Indonesia berpikir ulang untuk melakukan perjalanan internasional. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya sektor pariwisata terhadap fluktuasi ekonomi, di mana biaya perjalanan menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan untuk berlibur ke mancanegara.
Penurunan jumlah wisnas ini memberikan sinyal mengenai pergeseran preferensi atau kemampuan finansial masyarakat dalam mengalokasikan anggaran liburan mereka. Meskipun minat untuk menjelajahi dunia tetap ada, namun kendala biaya operasional perjalanan yang membengkak menjadi penghalang utama bagi sebagian besar pelancong domestik pada periode tersebut.





