Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan bahwa tingkat inflasi tahunan di wilayah tersebut pada September tercatat sebesar 3,51 persen. Kenaikan indeks harga konsumen ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor ekonomi, dengan komoditas pangan sebagai salah satu pendorong utamanya.
Berdasarkan data yang dirilis BPS, kenaikan harga beras memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap angka inflasi tersebut. Komoditas beras tercatat menyumbang andil sebesar 0,33 persen terhadap total inflasi tahunan di Provinsi Lampung. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga bahan pangan pokok masih menjadi tantangan utama dalam menjaga stabilitas harga di tingkat daerah.
Kenaikan harga beras ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat, mengingat beras merupakan kebutuhan dasar utama penduduk di Lampung. Pihak BPS menekankan pentingnya pemantauan stok dan distribusi pangan guna menekan laju inflasi agar tidak terus meningkat pada periode berikutnya.
Selain faktor beras, beberapa kelompok pengeluaran lain juga turut memberikan kontribusi terhadap inflasi, meskipun tidak sebesar pengaruh dari sektor pangan. Pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan koordinasi intensif dengan instansi terkait untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan di pasar tetap terjaga sehingga harga dapat kembali stabil.
Provinsi Lampung sendiri merupakan salah satu lumbung pangan nasional, terutama untuk komoditas beras dan jagung. Namun, dinamika harga pangan seringkali dipengaruhi oleh faktor musiman, gangguan distribusi, serta permintaan pasar yang tinggi menjelang hari besar keagamaan atau peristiwa tertentu, yang pada akhirnya berdampak pada tingkat inflasi daerah.






