Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mengakui bahwa insiden kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang merupakan kejadian yang sering terulang setiap tahunnya. Fenomena ini umumnya terjadi saat memasuki musim kemarau, di mana kondisi cuaca ekstrem memicu peningkatan risiko kebakaran di area pembuangan sampah.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto, menjelaskan bahwa meskipun bencana tersebut masih terjadi, terdapat kemajuan signifikan dalam proses penanganan di lapangan. Menurutnya, koordinasi antarinstansi dan kecepatan respons tim pemadam kebakaran kini jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga dampak kerusakan dapat lebih diminimalisir.
Namun, Endro menekankan bahwa sepenuhnya mencegah terjadinya kebakaran di TPA Jatibarang adalah tantangan yang sangat berat. Hal ini dikarenakan karakteristik sampah organik yang menumpuk dapat menghasilkan gas metana, yang jika bertemu dengan suhu panas ekstrem, sangat mudah memicu api secara alami.
Upaya mitigasi terus dilakukan oleh pemerintah kota untuk menekan frekuensi kebakaran. Peningkatan pengawasan di area TPA serta penyediaan sarana prasarana pemadaman yang lebih memadai menjadi fokus utama agar saat terjadi percikan api, petugas dapat segera melakukan lokalisasi area agar api tidak merembet luas.
TPA Jatibarang sendiri merupakan pusat pengelolaan sampah utama bagi warga Kota Semarang. Sebagai fasilitas pengolahan limbah perkotaan yang besar, risiko kebakaran akibat gas metana memang menjadi tantangan umum bagi banyak tempat pembuangan akhir di berbagai kota besar di Indonesia, terutama saat terjadi kekeringan panjang.






