PT MRT Jakarta saat ini tengah mengembangkan strategi bisnis baru dengan menyasar pengelolaan kawasan di sekitar stasiun. Langkah strategis ini diwujudkan melalui perencanaan sepuluh proyek Transit-Oriented Development (TOD) yang membentang dari wilayah Lebak Bulus hingga kawasan Kota Tua.
Konsep TOD sendiri dirancang untuk mengintegrasikan kawasan hunian dan komersial dengan akses transportasi massal. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat menjangkau berbagai fasilitas umum dengan berjalan kaki, sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat dikurangi. Pengembangan kawasan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi lahan di sekitar stasiun, tetapi juga menciptakan ekosistem perkotaan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menariknya, MRT Jakarta tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik infrastruktur. Perusahaan juga mendorong keterlibatan komunitas lokal untuk bersama-sama menghidupkan ruang publik di area-area tersebut. Dengan melibatkan komunitas, diharapkan ruang publik yang tercipta dapat menjadi pusat interaksi sosial yang organik dan memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung maupun warga sekitar.
Melalui sinergi antara pengembangan properti yang terintegrasi dan aktivasi kegiatan komunitas, MRT Jakarta berupaya mengubah wajah transportasi publik menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Hal ini menjadi bagian dari visi besar perusahaan dalam mendukung mobilitas perkotaan yang lebih modern dan ramah pengguna di ibu kota.
Sebagai informasi, Transit-Oriented Development (TOD) merupakan tren perencanaan kota global yang bertujuan menciptakan kawasan campuran yang padat dan ramah pejalan kaki di sekitar titik transit transportasi umum. Di berbagai kota besar dunia, penerapan TOD terbukti efektif dalam menurunkan angka kemacetan, mengurangi emisi karbon, serta meningkatkan kualitas hidup warga kota melalui penyediaan ruang terbuka hijau dan fasilitas umum yang mudah diakses.






