Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil masih menjadi kendala utama dalam upaya menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca, khususnya pada sektor industri dan transportasi. Tantangan ini menjadi sorotan penting mengingat urgensi transisi energi global untuk menekan dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Suzanty Sitorus menjelaskan bahwa penurunan emisi tidak dapat dilakukan secara parsial. Menurutnya, sektor industri dan transportasi merupakan dua kontributor besar dalam polusi udara dan pemanasan global, sehingga diperlukan strategi yang terukur untuk mengurangi penggunaan energi berbasis karbon.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa solusi atas permasalahan ini tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga penyedia layanan transportasi, guna menciptakan ekosistem yang mendukung penggunaan energi bersih. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan solusi komprehensif, seperti pengembangan infrastruktur energi terbarukan dan penerapan teknologi rendah karbon di pabrik-pabrik.
Tanpa adanya kerja sama yang terintegrasi, target penurunan emisi dikhawatirkan akan sulit tercapai tepat waktu. Oleh karena itu, percepatan transisi dari energi fosil menuju energi alternatif menjadi harga mati agar kualitas lingkungan dapat diperbaiki dan target keberlanjutan jangka panjang dapat terwujud.






