Sejarah mencatat nama Oei Tambah Sia sebagai salah satu sosok paling berpengaruh sekaligus kontroversial di Batavia pada masanya. Sebagai seorang taipan kaya raya, ia dikenal memiliki kekayaan yang luar biasa, namun kekuasaan finansial tersebut justru membawanya pada perilaku arogan yang sulit dipercaya oleh masyarakat umum.
Salah satu kisah yang paling membekas mengenai perilaku nyeleneh Oei Tambah Sia adalah kebiasaannya dalam memamerkan kekayaan atau yang kini populer disebut dengan istilah 'flexing'. Dalam catatan sejarah, ia dikisahkan pernah melakukan tindakan yang sangat tidak lazim, yakni menggunakan uang kertas sebagai pengganti alat pembersih diri setelah buang air besar. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai uang sekaligus simbol kesombongan yang ekstrem atas kekayaan yang dimilikinya.
Namun, kejayaan dan kemewahan yang dipamerkan tersebut tidak bertahan lama. Sikap arogan dan gaya hidup yang tidak terkendali perlahan-lahan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Kekayaan yang melimpah tidak mampu menyelamatkannya dari kejatuhan yang tragis, di mana ia akhirnya harus kehilangan segala kemegahan yang pernah ia bangun.
Kisah Oei Tambah Sia menjadi pengingat penting bahwa kekayaan materi bukanlah jaminan kebahagiaan atau keberlangsungan status sosial jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati dan pengelolaan yang bijak. Kejatuhannya memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana kesombongan dapat membutakan seseorang terhadap risiko dan realitas kehidupan.
Sebagai latar belakang, Batavia atau yang kini dikenal sebagai Jakarta, pada masa kolonial merupakan pusat perdagangan dan administrasi terpenting di Hindia Belanda. Kota ini menjadi tempat berkumpulnya para pedagang lintas negara dan pengusaha kaya yang menguasai berbagai komoditas ekspor, sehingga menciptakan stratifikasi sosial yang sangat tajam antara kaum borjuis dan rakyat jelata.






