Beredar informasi di tengah masyarakat yang mencoba mengaitkan dua peristiwa alam yang terjadi hampir bersamaan, yakni jatuhnya meteor di wilayah Gorontalo dan guncangan gempa bumi yang melanda kawasan Kepulauan Seribu.
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 di Kepulauan Seribu pada 12 September 2026 dipicu oleh jatuhnya meteor di Gorontalo beberapa jam sebelumnya adalah tidak benar. Kedua peristiwa alam tersebut terjadi di lokasi yang sangat berjauhan dan memiliki mekanisme pemicu yang sepenuhnya berbeda.
Gempa bumi merupakan fenomena tektonik yang disebabkan oleh pergeseran lempeng bumi atau aktivitas patahan di bawah permukaan tanah, sementara jatuhnya meteor adalah fenomena astronomi di mana benda langit memasuki atmosfer bumi. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa jatuhnya meteor di satu wilayah dapat memicu aktivitas seismik berupa gempa bumi di wilayah lain, terutama dengan jarak geografis yang sangat jauh antara Gorontalo dan Jakarta.
Klarifikasi ini penting untuk meluruskan misinformasi yang berkembang di media sosial agar masyarakat tidak terjebak dalam spekulasi yang tidak berdasar. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan hanya merujuk pada data resmi dari lembaga berwenang dalam menyikapi fenomena alam yang terjadi.






