Kondisi krisis perumahan yang semakin mengkhawatirkan telah memicu gelombang protes dari masyarakat. Ribuan warga dilaporkan terpaksa mendirikan tenda-tenda darurat di sepanjang jalanan sebagai bentuk protes sekaligus solusi terakhir akibat ketidakmampuan mereka membayar biaya tempat tinggal.
Kekecewaan masyarakat ini berakar pada lonjakan harga sewa rumah yang dianggap sudah tidak masuk akal dan tidak lagi terjangkau oleh pendapatan rata-rata penduduk. Kenaikan biaya sewa yang drastis terjadi di tengah situasi di mana ketersediaan hunian dengan harga murah semakin langka, sehingga menciptakan tekanan ekonomi yang berat bagi banyak keluarga.
Para demonstran menuntut adanya tindakan nyata dari pihak terkait untuk mengintervensi pasar properti agar harga sewa dapat ditekan. Mereka berharap ada regulasi yang lebih ketat untuk mencegah pemilik properti menaikkan harga secara sepihak, serta adanya peningkatan pembangunan rumah subsidi atau hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Aksi mendirikan tenda di ruang publik ini menjadi simbol nyata dari kegagalan sistem penyediaan hunian yang inklusif. Masyarakat menilai bahwa hak atas tempat tinggal yang layak kini telah tergeser oleh kepentingan komersial, yang pada akhirnya memaksa mereka untuk hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi di jalanan.






