Seorang ulama asal Indonesia, Shamsi Ali, terlibat dalam sebuah diskusi terbuka saat menghadapi kelompok demonstran yang menyuarakan dukungan terhadap gerakan separatis Papua di New York, Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, Shamsi Ali tidak tinggal diam melihat aksi unjuk rasa yang berlangsung. Ia justru melontarkan pertanyaan kritis kepada para demonstran mengenai alasan di balik tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis di wilayah Papua Barat. Fokus utama dari pertanyaannya adalah mengenai nasib warga sipil yang tidak bersalah namun menjadi korban penembakan hingga tewas oleh kelompok tersebut.
Langkah Shamsi Ali ini dinilai sebagai upaya untuk membuka dialog dan memberikan perspektif lain mengenai situasi keamanan di Papua. Ia menekankan bahwa narasi perjuangan tidak seharusnya dibarengi dengan aksi kekerasan yang menyasar masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik politik maupun bersenjata.
Kehadiran tokoh agama dalam ruang diskusi internasional seperti ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kompleksitas permasalahan di Papua, serta mendorong terciptanya perdamaian tanpa adanya intimidasi maupun kekerasan terhadap warga lokal yang hanya ingin hidup tenang di tanah kelahiran mereka.






