Banyak orang sering merasa bersalah setelah meluapkan kekesalan melalui keluhan, sementara sebagian lainnya menganggap aktivitas tersebut sebagai cara alami untuk melepas stres. Lantas, apakah mengeluh sebenarnya memberikan dampak positif bagi kesehatan mental, atau justru menjadi beban tambahan bagi psikologis seseorang?
Menurut penjelasan para ahli psikologi, mengeluh tidak bisa dipandang secara hitam-putih. Pada satu sisi, meluapkan emosi yang terpendam dapat berfungsi sebagai katarsis atau mekanisme pelepasan ketegangan. Saat seseorang mengeluh, mereka sering kali merasa didengar dan divalidasi perasaannya, yang pada gilirannya dapat menurunkan tingkat kecemasan sesaat setelah beban emosional dikeluarkan.
Namun, para ahli memberikan peringatan mengenai batas aman dalam melampiaskan emosi tersebut. Keluhan yang dilakukan secara terus-menerus tanpa adanya upaya untuk mencari solusi dapat menjebak seseorang dalam lingkaran negatif. Pola pikir yang hanya berfokus pada masalah tanpa melihat peluang perbaikan dapat memperburuk kondisi mental dan membuat seseorang merasa tidak berdaya dalam menghadapi situasi sulit.
Kunci utamanya terletak pada bagaimana seseorang mengelola keluhan tersebut. Keluhan yang bersifat konstruktif—yakni yang diikuti dengan refleksi diri dan keinginan untuk memperbaiki keadaan—cenderung lebih sehat dibandingkan keluhan yang bersifat kronis dan destruktif. Dengan memahami batasan ini, seseorang dapat menggunakan ekspresi emosional sebagai langkah awal menuju pemulihan mental, bukan justru terperosok lebih dalam ke dalam stres yang berkepanjangan.






