Di tengah derasnya arus modernisasi, pelestarian budaya tradisional menjadi tantangan tersendiri. Namun, bagi Tri Damayanti dan suaminya, menjaga warisan leluhur bukan sekadar soal hobi, melainkan sebuah dedikasi yang dituangkan melalui seni pembuatan blangkon khas Jawa.
Setiap helai kain yang mereka pilih dan rangkai bukan sekadar produk tekstil biasa. Di balik proses pembuatannya, terdapat keterampilan turun-temurun yang dijaga dengan teliti. Bagi pasangan ini, blangkon bukan hanya penutup kepala tradisional, melainkan simbol identitas budaya Jawa yang harus tetap eksis dan dikenal oleh generasi mendatang.
Kegiatan produksi ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya konservasi budaya, tetapi juga menjadi pilar ekonomi bagi keluarga mereka. Dengan ketekunan dalam mengolah kain menjadi karya seni yang bernilai jual, usaha pembuatan blangkon ini mampu memberikan penghidupan yang layak bagi keluarga Tri Damayanti.
Dalam menjalankan roda usahanya, Tri Damayanti mendapatkan dukungan dari PNM Mekaar. Kemitraan ini membantu pelaku usaha mikro dalam mengakses pembiayaan dan pendampingan, sehingga produksi blangkon dapat terus berjalan secara berkelanjutan meskipun menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat di era digital.
Upaya yang dilakukan oleh pasangan ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif berbasis budaya memiliki potensi besar untuk berkembang. Dengan mengombinasikan keterampilan tradisional dan dukungan akses keuangan, warisan budaya seperti blangkon tidak hanya menjadi pajangan museum, tetapi tetap hidup dan relevan dalam kehidupan ekonomi masyarakat modern.






