Proses penguraian jenazah manusia yang berada di lingkungan perairan, khususnya laut, memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan dengan proses pembusukan yang terjadi di daratan. Perubahan fisik pada tubuh yang terendam air laut dipengaruhi oleh berbagai variabel lingkungan yang kompleks, sehingga durasi ketahanannya menjadi tidak seragam.
Salah satu faktor utama yang menentukan kecepatan dekomposisi adalah suhu air. Di perairan yang dingin, aktivitas bakteri pengurai cenderung melambat, sehingga tubuh dapat bertahan lebih lama dalam kondisi yang relatif utuh. Sebaliknya, pada suhu air yang hangat, proses pembusukan berlangsung jauh lebih cepat karena metabolisme mikroorganisme meningkat pesat.
Selain suhu, faktor eksternal seperti kadar garam (salinitas) dan arus laut juga memainkan peran penting. Kadar garam yang tinggi pada air laut dapat memberikan efek pengawetan alami dalam skala tertentu, namun arus laut yang kuat sering kali menyebabkan kerusakan fisik pada jenazah akibat benturan dengan terumbu karang atau dasar laut. Hal ini mempercepat kerusakan jaringan kulit dan organ dalam.
Faktor biologis lainnya adalah keberadaan biota laut. Ikan, kepiting, dan berbagai organisme pemakan bangkai (scavengers) di laut berperan aktif dalam mempercepat penghancuran jaringan lunak tubuh manusia. Aktivitas organisme ini sering kali membuat proses penguraian terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan jika hanya mengandalkan proses bakteriologis.
Secara keseluruhan, kondisi lingkungan laut menciptakan dinamika tersendiri dalam proses forensik. Perpaduan antara suhu, salinitas, dan aktivitas biologis laut menjadi penentu utama berapa lama jasad manusia dapat bertahan sebelum akhirnya terurai sepenuhnya menjadi bagian dari ekosistem laut.






