Banyak orang, terutama perempuan, sering kali merasakan pergulatan batin setelah memberikan apresiasi kepada diri sendiri dalam bentuk hadiah atau 'self-reward'. Fenomena ini sering kali muncul dalam bentuk rasa bersalah setelah mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli barang yang diinginkan atau menikmati layanan tertentu, meskipun secara finansial mereka mampu melakukannya.
Secara psikologis, perasaan bersalah setelah melakukan self-reward ternyata tidak selalu berkaitan dengan nominal harga barang yang dibeli atau kondisi saldo rekening saat itu. Ada faktor mental dan sosial yang lebih mendalam yang memicu munculnya perasaan negatif tersebut, meskipun tindakan yang dilakukan sebenarnya bertujuan untuk memberikan penghargaan atas kerja keras yang telah dilalui.
Kecenderungan ini sering kali berakar dari pola pikir bahwa kebutuhan orang lain atau tanggung jawab rumah tangga harus selalu diprioritaskan di atas keinginan pribadi. Akibatnya, ketika seseorang memutuskan untuk memanjakan diri sendiri, muncul persepsi bahwa tindakan tersebut adalah bentuk keegoisan atau pemborosan yang tidak perlu, meskipun dalam kenyataannya, menjaga kesehatan mental melalui apresiasi diri sangatlah penting.
Para ahli menekankan bahwa mengenali pemicu rasa bersalah ini adalah langkah awal untuk mencapai keseimbangan antara produktivitas dan perawatan diri. Dengan memahami bahwa self-reward adalah bagian dari manajemen stres dan motivasi kerja, seseorang dapat lebih menerima keputusan untuk memberikan apresiasi pada diri sendiri tanpa harus merasa terbebani oleh pikiran negatif.






