Bencana alam berupa banjir, tanah longsor, hingga fenomena galodo yang kerap melanda berbagai wilayah di Pulau Sumatra menjadi pengingat serius bagi masyarakat dan pemerintah. Rentetan peristiwa alam yang terjadi secara berulang ini memicu pertanyaan mendasar mengenai apakah bencana tersebut merupakan fenomena baru atau sebenarnya pola lama yang terus terulang.
Kecenderungan untuk menganggap setiap bencana sebagai kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya sering kali membuat langkah mitigasi menjadi kurang optimal. Padahal, jika menilik kembali catatan sejarah wilayah, banyak titik bencana yang saat ini terdampak sebenarnya memiliki rekam jejak kerentanan yang serupa di masa lampau. Ketidaksadaran akan pola sejarah ini membuat masyarakat cenderung terkejut dan kurang siap saat bencana kembali menyapa.
Kebutuhan akan literasi sejarah kebencanaan menjadi sangat krusial. Memahami 'Jasmerah' atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah dalam konteks kebencanaan berarti mengidentifikasi wilayah mana saja yang secara historis rawan terdampak. Dengan memetakan titik-titik bencana masa lalu, pemerintah dapat merancang tata ruang yang lebih aman serta sistem peringatan dini yang lebih efektif bagi warga setempat.
Selain faktor alam, pola berulangnya bencana ini juga berkaitan erat dengan bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Perubahan fungsi lahan dan pengabaian terhadap tanda-tanda alam yang pernah tercatat dalam ingatan kolektif masyarakat setempat sering kali menjadi pemicu meningkatnya risiko bencana. Oleh karena itu, integrasi antara data ilmiah modern dan kearifan lokal berbasis sejarah menjadi kunci utama dalam menekan jumlah korban serta kerugian material di masa depan.






