Pemerintah Jepang secara resmi menghentikan operasi bantuan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Barat pada Selasa (29/9/2026). Bantuan tersebut melibatkan pengerahan tiga unit helikopter berat jenis CH-47 Chinook yang dikerahkan khusus untuk membantu penanganan bencana asap dan api di wilayah tersebut.
Penggunaan helikopter jumbo Chinook ini menjadi bagian dari kerja sama bilateral antara Indonesia dan Jepang dalam menghadapi ancaman karhutla yang kerap melanda wilayah Kalimantan. Dengan kapasitas angkut air yang besar, ketiga helikopter tersebut difokuskan pada area-area yang sulit dijangkau oleh personel darat, sehingga proses pemadaman dapat dilakukan secara lebih efektif melalui metode water bombing.
Pengakhiran operasi ini menandakan bahwa fase kritis pemadaman di titik-titik panas yang menjadi target bantuan telah teratasi. Koordinasi antara pemerintah kedua negara dalam operasi ini diharapkan dapat menurunkan risiko perluasan area terbakar serta meminimalisir dampak buruk polusi asap bagi kesehatan masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
Keberhasilan misi ini juga menunjukkan pentingnya dukungan teknologi udara dalam manajemen bencana skala besar, terutama di medan hutan tropis yang luas. Pemerintah Indonesia mengapresiasi dukungan cepat dari Jepang yang telah membantu mempercepat proses pemulihan ekosistem lahan yang terbakar di Kalimantan Barat.
Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang secara rutin menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan setiap tahunnya, terutama saat memasuki musim kemarau panjang. Fenomena ini umumnya dipicu oleh kombinasi antara kondisi cuaca ekstrem, karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar, serta aktivitas manusia. Dampak dari karhutla tidak hanya merusak keanekaragaman hayati, tetapi juga sering kali menyebabkan gangguan kesehatan pernapasan massal dan mengganggu aktivitas transportasi udara akibat kabut asap yang pekat.





