Pemerintah Kota Semarang menegaskan bahwa penyelenggaraan Mooncake Festival 2026 bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah ruang perjumpaan lintas budaya. Acara ini menjadi bukti nyata bagaimana tradisi Tionghoa telah melebur dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat di Kota Semarang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyampaikan bahwa festival ini berfungsi sebagai wadah akulturasi yang mempererat hubungan antarwarga. Menurutnya, keberadaan tradisi Tionghoa di Semarang memberikan warna tersendiri bagi identitas kota dan memperkuat semangat toleransi di tengah keberagaman etnis dan agama.
Kegiatan ini diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan serta mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan budaya. Melalui Mooncake Festival, nilai-nilai kebersamaan dan rasa syukur yang terkandung dalam tradisi kue bulan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang budaya.
Selain sebagai ajang pelestarian budaya, festival ini juga dipandang mampu memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi kreatif lokal. Interaksi sosial yang terjalin selama acara berlangsung menjadi momentum penting untuk memperkokoh kohesi sosial di Kota Semarang, sekaligus mempromosikan citra kota yang inklusif dan terbuka terhadap perbedaan.






