Provinsi Jawa Timur menghadapi tantangan berat akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas selama musim kemarau tahun 2026. Berdasarkan data terbaru, tercatat sedikitnya 25 wilayah kabupaten dan kota di Jawa Timur terdampak oleh kobaran api yang menghanguskan vegetasi serta lahan produktif.
Total luas area yang terbakar mencapai angka yang cukup signifikan, yakni sebesar 9.269,55 hektare. Luasnya kerusakan ini menunjukkan betapa parahnya dampak kekeringan yang melanda wilayah tersebut, sehingga memicu munculnya titik-titik api yang sulit dikendalikan di berbagai lokasi.
Menanggapi situasi darurat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menetapkan status siaga guna meminimalisir dampak kerusakan yang lebih luas. Hingga saat ini, tercatat ada 136 kejadian kebakaran hutan dan lahan yang harus ditangani oleh tim pemadam kebakaran serta relawan di lapangan.
Upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif, baik melalui penyemprotan air secara langsung maupun koordinasi antarinstansi untuk memastikan api tidak merembet ke pemukiman warga atau kawasan hutan lindung yang lebih luas. Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan pembakaran sampah atau pembersihan lahan dengan cara membakar di tengah kondisi cuaca yang ekstrem.
Fenomena kebakaran hutan dan lahan di Indonesia umumnya meningkat tajam saat memasuki musim kemarau, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut atau vegetasi kering. Karhutla tidak hanya menyebabkan kerugian materiil berupa rusaknya ekosistem dan lahan pertanian, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat akibat polusi asap yang dihasilkan. Penanganan karhutla biasanya melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, serta masyarakat setempat melalui sistem peringatan dini dan patroli pencegahan.






