PORTALSOLUSINDO
Nasional

Ombudsman RI: Latihan Militer untuk Calon Manajer Kopdes Merah Putih Salah Orientasi Pelatihan

Oleh: Rizky PratamaSenin, 29 Juni 2026 pukul 14.45
Ombudsman RI: Latihan Militer untuk Calon Manajer Kopdes Merah Putih Salah Orientasi Pelatihan
[Iklan AdSense 728x90]

Ombudsman RI: Latihan Militer untuk Calon Manajer Kopdes Merah Putih Salah Orientasi Pelatihan

Jakarta - Ombudsman Republik Indonesia (RI) mengungkapkan keprihatinan terhadap pelaksanaan latihan militer yang diperuntukkan bagi calon manajer Kopdes Merah Putih. Praktik dilaksanakan di tengah kesibukan pelatihan kepemimpinan tersebut dinilai sebagai langkah yang salah orientasi, dan berpotensi mengganggu agenda pendidikan peserta.

Ketua Ombudsman RI, Mokhamad Aqua Safa’at, menyampaikan bahwa latihan militer harusnya tidak menjadi bagian dari kurikulum pengembangan manajerial. "Kami melihat bahwa pelatihan yang seharusnya fokus mengasah keterampilan manajerial justru teralihkan dengan kegiatan yang tidak relevan seperti pelatihan militer. Ini merupakan langkah yang kurang tepat dan berdampak pada kualitas pendidikan peserta," ungkapnya dalam sebuah konferensi pers.

Selama beberapa minggu terakhir, pelatihan yang diadakan di sejumlah lokasi di Indonesia ini melibatkan metode yang sangat ketat, yang tidak berfungsi untuk meningkatkan kapabilitas manajerial. Alih-alih memberikan wawasan dan pengalaman yang berguna dalam manajemen, peserta justru dihadapkan pada berbagai disiplin militer yang tidak ada hubungannya dengan tujuan pelatihan mereka.

Risiko dan Tantangan

Menurut Ombudsman, ada beberapa risiko yang muncul akibat pelaksanaan latihan ini, antara lain:

  • Peserta tidak mendapatkan kompetensi manajerial yang dibutuhkan.
  • Potensi burn-out karena tekanan yang tidak sesuai dengan konteks pelatihan.
  • Menimbulkan pandangan negatif terhadap organisasi Kopdes Merah Putih yang seharusnya fokus pada pemberdayaan dan pengembangan masyarakat.

Ombudsman RI merekomendasikan agar pihak Kopdes Merah Putih meninjau ulang kurikulum pelatihan dan mengedepankan metode yang lebih sesuai untuk mengembangkan kemampuan manajerial calon manajer. "Kami mendorong agar fokus pada penguatan soft skills dan hard skills yang relevan untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan di lapangan," tambah Aqua.

Dengan adanya temuan ini, diharapkan pihak terkait dapat segera melakukan perbaikan dan memastikan pelatihan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan tujuan awalnya.

Disclaimer: Penggunaan teknologi AI pada artikel ini ditujukan semata-mata untuk penyempurnaan redaksional.