Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras sebagai sumber utama karbohidrat masih sangat tinggi. Padahal, Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa besar yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui diversifikasi konsumsi pangan lokal.
Berdasarkan data yang ada, Indonesia memiliki setidaknya 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif sumber pangan. Angka ini menunjukkan bahwa opsi pemenuhan kebutuhan energi tubuh tidak harus selalu bertumpu pada beras, melainkan bisa beralih ke berbagai jenis tanaman lokal yang tersebar di berbagai wilayah nusantara.
Pengembangan pangan lokal dinilai strategis untuk mengurangi tekanan terhadap produksi beras nasional serta meminimalisir ketergantungan pada impor pangan. Dengan mengoptimalkan pemanfaatan ribuan spesies tumbuhan yang tersedia, pemerintah dan masyarakat dapat membangun sistem pangan yang lebih mandiri, sehat, dan berkelanjutan.
Upaya ini diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat agar lebih terbuka dalam mengonsumsi sumber karbohidrat non-beras. Pemanfaatan kekayaan hayati ini tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan melalui variasi nutrisi, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi petani lokal yang mengelola tanaman pangan non-beras di daerah masing-masing.
Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia setelah Brasil. Kekayaan alam ini mencakup berbagai jenis umbi-umbian, jagung, sagu, hingga biji-bijian yang secara historis telah menjadi makanan pokok di berbagai suku bangsa di Indonesia sebelum dominasi beras meluas secara nasional.






