PORTALSOLUSINDO
Teknologi

Pakar AI ITB Ingatkan, Jangan Jadikan AI sebagai Rujukan Utama

Oleh: Rizky PratamaKamis, 02 Juli 2026 pukul 09.58
Pakar AI ITB Ingatkan, Jangan Jadikan AI sebagai Rujukan Utama
[Iklan AdSense 728x90]

Pakar AI ITB Ingatkan, Jangan Jadikan AI sebagai Rujukan Utama

Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui pakar kecerdasan buatan (AI) memberikan peringatan penting terkait penggunaan AI sebagai sumber rujukan utama dalam pengambilan keputusan. Menurut para ahli, meskipun teknologi AI mengalami kemajuan pesat, terdapat keterbatasan yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.

Dr. Asep Junaedi, dosen Teknik Informatika ITB, mengungkapkan bahwa AI dirancang untuk memproses dan menganalisis data, namun tidak selalu mampu memahami konteks dan nuansa yang ada di balik data tersebut. "AI dapat memberikan rekomendasi, namun keputusan akhir tetap harus melibatkan pertimbangan manusia,” jelasnya.

Ciri-Ciri Keterbatasan AI

Beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Konteks yang Hilang: AI sering kali gagal dalam memahami konteks situasi yang kompleks.
  • Bias Data: Keputusan yang diambil AI sangat tergantung pada kualitas dan keberagaman data yang digunakan untuk melatihnya.
  • Kreativitas Terbatas: AI tidak dapat menghasilkan ide-ide baru di luar data yang sudah ada.

Dalam era informasi yang serba cepat ini, pemahaman yang baik tentang kemampuan dan batasan AI menjadi sangat penting. Dr. Asep mengingatkan agar masyarakat tidak sepenuhnya mengandalkan AI dalam keputusan penting, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan.

Tantangan Etis dan Sosial

Lebih lanjut, penggunaan AI juga menimbulkan tantangan etis dan sosial. Beberapa kasus telah menunjukkan bagaimana AI bisa menghasilkan keputusan yang diskriminatif jika tidak diawasi dengan baik. Oleh karena itu, keterlibatan manusia dalam setiap proses pengambilan keputusan tetap sangat krusial untuk memastikan keadilan dan akurasi.

"AI adalah alat yang berguna, tetapi seharusnya tidak dijadikan rujukan utama. Manusia harus tetap berada di pusat pengambilan keputusan,” tambah Dr. Asep.

Kedepannya, ITB berencana untuk menggelar seminar dan workshop mengenai penggunaan AI yang etis dan tepat guna, agar masyarakat bisa lebih memahami manfaat dan risikonya.

Disclaimer: Penggunaan teknologi AI pada artikel ini ditujukan semata-mata untuk penyempurnaan redaksional.