Krisis air bersih kini tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia seiring dengan datangnya musim kemarau yang berkepanjangan. Fenomena kekeringan ini telah memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan sumber daya air yang dibutuhkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Menanggapi situasi tersebut, Hatma Suryatmojo, seorang pakar Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), memberikan catatan kritis terkait strategi penanganan kekeringan. Menurutnya, langkah-langkah mitigasi tidak boleh hanya dilakukan secara reaktif ketika musim kemarau telah tiba atau saat masyarakat sudah merasakan dampak buruk dari kelangkaan air.
Hatma menekankan bahwa kunci utama dalam mencegah krisis air adalah melalui pengelolaan dan penjagaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara berkelanjutan. Penanganan yang bersifat parsial atau hanya dilakukan saat kondisi darurat dinilai tidak akan memberikan solusi jangka panjang bagi stabilitas pasokan air di berbagai daerah.
Upaya pelestarian DAS mencakup berbagai langkah konservasi lahan dan vegetasi yang berfungsi sebagai penyerap air hujan ke dalam tanah. Dengan terjaganya fungsi ekologis DAS, cadangan air tanah akan tetap terjaga meskipun musim kemarau melanda, sehingga risiko kekeringan ekstrem dapat diminimalisir.
Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga ekosistem sungai dan hutan di wilayah hulu hingga hilir. Pengelolaan DAS yang terintegrasi diharapkan mampu menciptakan ketahanan air nasional yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak menentu.






