Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi mengakhiri pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang ditujukan untuk mengurangi risiko banjir di wilayah Jabodetabek. Program pengendalian cuaca ini mencapai hari terakhir pelaksanaannya setelah sebelumnya sempat mengalami dua kali perpanjangan durasi operasional.
Dalam pelaksanaan operasi ini, pesawat penyemai kembali dikerahkan untuk melakukan misi terakhir dalam memodifikasi awan. Fokus utama dari kegiatan ini adalah untuk mengalihkan atau mempercepat jatuhnya hujan di area yang dianggap aman, sehingga beban air yang masuk ke wilayah pemukiman dan pusat kota Jakarta dapat diminimalisir.
Langkah modifikasi cuaca ini merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana yang dilakukan pemerintah daerah guna menghadapi cuaca ekstrem. Dengan menyemai bahan kimia tertentu ke dalam awan, diharapkan intensitas hujan yang turun di titik-titik rawan banjir dapat dikurangi, sehingga dampak genangan air yang merugikan masyarakat dapat ditekan.
Meskipun operasi ini telah berakhir, koordinasi antarinstansi terkait penanganan banjir tetap menjadi prioritas. Pemerintah berharap bahwa intervensi cuaca yang telah dilakukan selama beberapa waktu terakhir dapat membantu mengurangi beban sistem drainase kota dalam menghadapi puncak musim penghujan.
Sebagai informasi tambahan, modifikasi cuaca atau yang sering dikenal dengan istilah hujan buatan adalah teknik meteorologi yang bertujuan untuk mengubah karakteristik awan. Di Indonesia, teknologi ini umum digunakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga terkait lainnya, tidak hanya untuk mencegah banjir di perkotaan, tetapi juga untuk mengisi waduk yang kekeringan serta memadamkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.






