Universitas Surabaya (Ubaya) memberikan imbauan kepada masyarakat untuk mulai mewaspadai dan mendeteksi faktor risiko demensia sejak memasuki usia 40 tahun. Langkah preventif ini dinilai krusial guna meminimalisir dampak penurunan fungsi kognitif yang sering kali baru disadari ketika kondisi sudah memasuki tahap lanjut.
Menurut pihak Ubaya, kesadaran untuk melakukan deteksi dini sangat penting karena demensia bukan sekadar proses penuaan alami, melainkan kondisi medis yang melibatkan kerusakan sel-sel otak. Dengan mengidentifikasi faktor risiko lebih awal, individu memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan intervensi gaya hidup maupun medis yang tepat guna memperlambat progresivitas penyakit.
Deteksi dini ini mencakup pemantauan terhadap berbagai gejala awal, seperti penurunan daya ingat yang tidak wajar, kesulitan dalam konsentrasi, hingga perubahan perilaku dan suasana hati. Selain itu, pengelolaan faktor risiko yang dapat dikontrol, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan kesehatan mental, menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan sejak usia produktif.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia di masa depan. Dengan deteksi yang dilakukan sejak usia 40 tahun, keluarga dan tenaga medis dapat memberikan dukungan yang lebih terstruktur, sehingga penderita tetap dapat menjalankan fungsi harian secara mandiri selama mungkin.
Secara umum, demensia merupakan istilah payung yang mencakup berbagai gangguan fungsi otak, dengan penyakit Alzheimer sebagai salah satu bentuk yang paling umum ditemukan. Kondisi ini ditandai dengan penurunan kemampuan berpikir, mengingat, dan berinteraksi yang cukup parah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Meningkatnya angka harapan hidup di masyarakat membuat perhatian terhadap kesehatan otak menjadi semakin penting guna mencegah beban kesehatan masyarakat yang lebih besar di masa tua.






