Ratusan massa berkumpul di kawasan Balai Kota Malang untuk memperingati empat tahun terjadinya Tragedi Kanjuruhan. Aksi ini digelar sebagai bentuk solidaritas sekaligus pengingat akan peristiwa kelam yang merenggut banyak nyawa dalam dunia sepak bola tanah air.
Dalam aksi tersebut, para peserta menampilkan pertunjukan teatrikal yang menyentuh hati. Melalui seni peran, mereka mencoba menggambarkan kembali penderitaan para korban serta keluarga yang ditinggalkan. Aksi teatrikal ini menjadi simbol perlawanan terhadap lupa dan penegasan bahwa luka akibat peristiwa tersebut belum sepenuhnya sembuh.
Fokus utama dari aksi massa kali ini adalah tuntutan terhadap penegakan keadilan yang menyeluruh bagi 135 korban jiwa. Para pengunjuk rasa mendesak pihak berwenang untuk memberikan kepastian hukum yang transparan dan akuntabel, serta memastikan bahwa seluruh pihak yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut mendapatkan sanksi yang setimpal.
Bagi keluarga korban, peringatan empat tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan perjuangan panjang untuk mendapatkan pengakuan dan keadilan. Mereka berharap agar kasus ini tidak menguap begitu saja seiring berjalannya waktu, melainkan menjadi pelajaran berharga agar keamanan di stadion olahraga dapat ditingkatkan secara signifikan guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Tragedi Kanjuruhan sendiri merupakan salah satu bencana olahraga terbesar dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini memicu evaluasi besar-besaran terhadap standar pengamanan pertandingan sepak bola di Indonesia, termasuk pengetatan prosedur penggunaan gas air mata di dalam stadion serta peninjauan ulang protokol manajemen massa oleh aparat keamanan dan penyelenggara pertandingan.






