Ratusan massa yang terdiri dari warga sipil dan kelompok suporter Aremania berkumpul di depan Balai Kota Malang untuk melaksanakan aksi diam bersama. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya untuk merawat ingatan atas peristiwa kelam Tragedi Kanjuruhan yang terjadi beberapa tahun silam.
Dalam aksi tersebut, para peserta memilih untuk tidak melakukan orasi keras, melainkan mengedepankan keheningan sebagai simbol duka cita yang mendalam. Langkah ini diambil untuk mengingatkan publik serta pemerintah daerah mengenai luka yang masih dirasakan oleh keluarga korban dan masyarakat Malang secara luas.
Tragedi Kanjuruhan sendiri menjadi salah satu catatan paling memilukan dalam sejarah sepak bola tanah air. Peristiwa yang terjadi pasca-pertandingan tersebut mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa, dengan jumlah kematian tercatat mencapai lebih dari 135 orang. Hingga saat ini, aksi peringatan rutin dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat sebagai tuntutan atas keadilan dan transparansi dalam pengungkapan kasus tersebut.
Kehadiran ratusan orang dalam aksi diam ini menunjukkan bahwa memori kolektif mengenai tragedi tersebut tetap terjaga. Bagi para Aremania dan warga Malang, peringatan empat tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat akan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan di stadion serta perlindungan terhadap hak asasi manusia dalam penyelenggaraan acara olahraga massal.






