Momentum peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober seharusnya tidak hanya dipandang sebagai seremoni tahunan. Lebih dari sekadar peringatan formal, momen ini menjadi titik balik bagi seluruh elemen masyarakat untuk merefleksikan kembali sejauh mana nilai-nilai luhur Pancasila telah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, Pradi Supriatna, menekankan pentingnya menginternalisasi prinsip-prinsip Pancasila agar tidak berhenti pada ingatan sejarah semata. Menurutnya, Pancasila harus menjadi pedoman hidup yang nyata dan terasa dampaknya dalam interaksi sosial sehari-hari, bukan sekadar slogan yang dikumandangkan saat perayaan resmi kenegaraan.
Pradi menilai bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut setiap warga negara untuk kembali memperkuat jati diri bangsa melalui pengamalan sila-sila Pancasila. Dengan menjadikan Pancasila sebagai landasan berperilaku, diharapkan keharmonisan dan persatuan nasional dapat tetap terjaga di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak terjebak pada formalitas peringatan. Implementasi nyata dari nilai-nilai Pancasila, mulai dari sikap toleransi, gotong royong, hingga keadilan sosial, dianggap jauh lebih penting daripada sekadar memperingati hari besarnya. Hal ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa ideologi negara tetap relevan dan menjadi solusi atas berbagai permasalahan sosial yang terjadi saat ini.
Hari Kesaktian Pancasila sendiri merupakan peringatan yang memiliki makna mendalam bagi bangsa Indonesia. Momen ini berkaitan erat dengan sejarah perjuangan mempertahankan ideologi negara dari ancaman yang ingin menggantinya. Sebagai dasar negara, Pancasila berfungsi sebagai pemersatu bangsa yang terdiri dari ribuan pulau, suku, dan agama, sehingga menjaga kemurnian nilai-nilainya menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga negara demi stabilitas nasional.






