Penggunaan perangkat pintar atau smartphone pada anak-anak usia dini kini menjadi sorotan serius para peneliti. Sebuah studi terbaru mengungkapkan adanya kaitan erat antara pemberian smartphone kepada anak berusia di bawah 12 tahun dengan peningkatan risiko gangguan pola makan.
Ketergantungan pada perangkat digital di usia yang masih sangat muda dinilai dapat memengaruhi persepsi anak terhadap kesehatan dan nutrisi. Paparan konten yang tidak terfilter di dunia maya, termasuk standar kecantikan yang tidak realistis atau tren diet yang keliru, diduga menjadi salah satu pemicu perubahan perilaku makan pada anak-anak.
Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar. Selain berdampak pada aspek psikologis, penggunaan gawai yang tidak terkontrol juga dapat mengganggu jadwal makan teratur dan kualitas tidur anak, yang pada akhirnya berdampak buruk pada pertumbuhan fisik mereka.
Para ahli menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi durasi serta konten yang diakses oleh anak. Pembatasan akses smartphone di bawah usia 12 tahun dianggap sebagai langkah preventif yang tepat untuk melindungi kesehatan mental dan fisik anak sebelum mereka memiliki kemampuan kognitif yang cukup untuk memilah informasi secara mandiri.
Secara umum, isu kesehatan digital pada anak telah menjadi perhatian global seiring dengan meningkatnya penetrasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak negara kini mulai menerapkan pedoman waktu layar (screen time) yang ketat untuk mencegah berbagai gangguan perkembangan, mulai dari hambatan bicara pada balita hingga masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi pada remaja.






