Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menekankan betapa krusialnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia. Pesan mendalam ini disampaikan oleh Jenderal Sigit dalam sebuah agenda spiritual dan kebangsaan bertajuk Ngaji Kebangsaan yang diselenggarakan di Kabupaten Rembang.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolri hadir bersama tokoh ulama terkemuka, Gus Baha, untuk berdialog mengenai nilai-nilai kebangsaan. Sinergi antara aparat penegak hukum dan tokoh agama dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkokoh stabilitas nasional. Menurut Kapolri, kolaborasi yang harmonis antara Polri dan para ulama dapat menjadi benteng pertahanan dalam menghadapi potensi perpecahan serta menjaga kerukunan antarwarga.
Kegiatan Ngaji Kebangsaan ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan semangat nasionalisme. Dengan melibatkan tokoh agama yang memiliki pengaruh besar di masyarakat, Polri berharap pesan perdamaian dan persatuan dapat tersampaikan dengan lebih efektif hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Lebih lanjut, kerja sama antara Polri dan ulama diharapkan mampu menciptakan situasi kondusif yang mendukung pembangunan nasional. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dianggap sebagai aset berharga yang harus dijaga bersama melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghormati antara pemerintah, aparat keamanan, dan pemimpin spiritual.
Secara umum, hubungan antara institusi keamanan dan tokoh agama di Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menjaga stabilitas sosial. Ulama seringkali berperan sebagai mediator dalam konflik kemasyarakatan serta menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan rakyat. Sinergi semacam ini dianggap penting mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai negara hukum.






