Muhammad Anugerah Pratama secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari Partai NasDem. Keputusan besar ini diambil setelah melalui pertimbangan matang, yang kemudian diikuti dengan langkah strategis untuk bergabung bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Langkah politik Anugerah Pratama ini menarik perhatian publik, terutama karena ia merupakan putra dari Ahmad Ali, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Harian DPP PSI. Perpindahan haluan politik ini menandai babak baru bagi Anugerah dalam berkarier di dunia politik tanah air.
Dalam pernyataannya, Anugerah tidak menutup diri mengenai alasan di balik keputusannya meninggalkan NasDem. Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah persoalan terkait mahar politik. Ia memberikan sinyal bahwa sistem atau mekanisme terkait biaya politik menjadi pertimbangan signifikan dalam menentukan tempat bernaung yang paling sesuai dengan prinsip dan visinya ke depan.
Kini, dengan bergabungnya Anugerah ke PSI, ia diharapkan dapat memberikan kontribusi segar bagi partai yang mengusung semangat anak muda tersebut. Langkah ini juga mempertegas posisi PSI sebagai wadah bagi individu yang ingin terjun ke dunia politik dengan pendekatan yang berbeda dari pola-pola konvensional yang selama ini berkembang di Indonesia.
Fenomena mahar politik memang menjadi isu klasik yang kerap muncul dalam dinamika pemilihan umum di Indonesia. Praktik ini sering kali dianggap sebagai hambatan bagi kader potensial, terutama dari kalangan generasi muda, untuk masuk ke dalam struktur kekuasaan karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan tiket pencalonan dalam kontestasi politik.






