Polemik mengenai keabsahan ijazah Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan publik. Hal ini memicu kritik tajam dari pengamat politik, khususnya terkait integritas pemimpin dalam merealisasikan janji-janji politik yang telah disampaikan kepada masyarakat.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti, memberikan perhatian khusus terhadap isu ini. Menurutnya, kejujuran seorang pemimpin merupakan fondasi utama dalam menjalankan roda pemerintahan. Ia mempertanyakan bagaimana sebuah komitmen besar, seperti penciptaan 19 juta lapangan kerja, dapat terwujud apabila sosok pemimpinnya dinilai tidak jujur terhadap dirinya sendiri.
Kritik ini muncul sebagai bentuk skeptisisme terhadap kemampuan eksekutif dalam memenuhi target ekonomi yang ambisius. Ray menekankan bahwa kredibilitas personal seorang pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kemampuannya dalam mengelola kebijakan publik. Jika isu integritas dasar seperti masalah ijazah tetap menjadi tanda tanya, maka kepercayaan publik terhadap janji-janji strategis pemerintah dikhawatirkan akan menurun.
Dalam pandangan Ray, transparansi dan kejujuran adalah modal utama untuk membangun kepercayaan rakyat. Tanpa hal tersebut, program-program pembangunan ekonomi, termasuk perluasan kesempatan kerja bagi jutaan penduduk Indonesia, dianggap akan menghadapi tantangan legitimasi yang berat di mata masyarakat.
Isu mengenai ketersediaan lapangan kerja memang menjadi salah satu tantangan kronis bagi pemerintah Indonesia. Dengan jumlah angkatan kerja yang terus meningkat setiap tahunnya, penciptaan lapangan kerja yang berkualitas menjadi kunci utama dalam menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat secara nasional.





