The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) menekankan pentingnya mengintegrasikan kesiapsiagaan bencana ke dalam budaya sehari-hari masyarakat Indonesia. Langkah ini dinilai krusial mengingat posisi geografis Indonesia yang sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana alam.
Menurut TII, kesadaran akan risiko bencana tidak boleh hanya muncul saat situasi darurat terjadi atau setelah bencana melanda. Sebaliknya, pola pikir preventif dan kesiapan menghadapi situasi krisis harus tertanam kuat dalam perilaku masyarakat. Hal ini bertujuan agar setiap individu memiliki kemandirian dan pengetahuan yang cukup untuk menyelamatkan diri serta orang di sekitarnya ketika bencana terjadi.
Upaya membangun budaya siaga ini memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari edukasi di tingkat keluarga, sekolah, hingga kebijakan pemerintah yang mendukung mitigasi bencana berbasis komunitas. Dengan menjadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari gaya hidup, diharapkan risiko korban jiwa dan kerugian materiil dapat diminimalisir secara signifikan.
Lebih lanjut, penguatan kapasitas masyarakat dalam mengenali tanda-tanda awal bencana serta pemahaman terhadap jalur evakuasi menjadi poin penting dalam transformasi budaya ini. TII menilai bahwa investasi pada edukasi dan pelatihan mitigasi jauh lebih efektif dibandingkan dengan biaya pemulihan pascabencana yang cenderung sangat besar.
Indonesia secara geografis terletak di wilayah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), yang menjadikannya salah satu negara paling rawan bencana di dunia, mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga letusan gunung berapi. Kondisi alam ini menuntut adanya sistem mitigasi bencana yang terpadu dan berkelanjutan guna melindungi jutaan penduduk yang tinggal di zona risiko tinggi.






