PORTALSOLUSINDO
Teknologi

Viral Dulu, Makna Belakangan: Krisis Bahasa di Era TikTok

Oleh: Reza RahadianSenin, 29 Juni 2026 pukul 09.39
Viral Dulu, Makna Belakangan: Krisis Bahasa di Era TikTok
[Iklan AdSense 728x90]

Viral Dulu, Makna Belakangan: Krisis Bahasa di Era TikTok

Di era digital yang semakin maju, platform media sosial seperti TikTok telah mengubah cara kita berkomunikasi. Kini, istilah-istilah baru muncul di jagad maya, mengikuti tren yang cepat berlalu. Namun demikian, fenomena ini menciptakan sebuah krisis bahasa yang patut dicermati.

Menurut para ahli linguistik, penggunaan bahasa di media sosial sering kali mengabaikan kaidah-kaidah bahasa yang telah ada. Dalam banyak kasus, pengguna cenderung lebih memilih istilah yang viral tanpa memahami makna mendalam di baliknya.

Bahasa dan Identitas Budaya

Bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya. Ketika kata-kata dan istilah dipelesetkan atau disederhanakan untuk keperluan viral, hal ini bisa mengancam kefasihan berbahasa, bahkan menurunkan mutu komunikasi anak muda.

  • Contoh Krisis Bahasa: Banyak kata yang diambil dari bahasa asing dan diadaptasi dengan cara yang tidak tepat, seperti penggunaan istilah 'overthinking' yang sering disalahartikan.
  • Speed vs. Substance: Dalam mengejar viralitas, pengguna sering kali lupa untuk memberikan konteks yang jelas, sehingga makna dari kata-kata itu kehilangan esensinya.
  • Peran Pendidikan: Sangat penting bagi pendidik untuk mengajarkan generasi muda cara berbahasa yang baik dan benar, serta menjaga kekayaan bahasa lokal yang kian terpinggirkan.

Dampak Jangka Panjang

Krisis bahasa di era TikTok tidak hanya berdampak pada kemampuan berkomunikasi tetapi juga pada cara berpikir generasi muda. Bahwa suatu saat, generasi mendatang mungkin akan kesulitan memahami dan memanfaatkan bahasa secara efektif jika terus terbiasa dengan pola komunikasi yang dangkal.

Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Prabowo, menyatakan, "Krisis bahasa ini harus menjadi perhatian serius. Kita perlu menciptakan ruang bagi diskusi dan edukasi tentang pentingnya penggunaan bahasa yang tepat dalam konteks digital."

Sementara itu, masyarakat diharapkan tidak hanya ikut tren tetapi juga kritis dalam menggunakan bahasa. Viral bukanlah alasan untuk mengabaikan makna, dan bahasa yang baik harus tetap dijunjung tinggi.

Disclaimer: Penggunaan teknologi AI pada artikel ini ditujukan semata-mata untuk penyempurnaan redaksional.