Banyak orang menganggap bahwa kurang tidur atau begadang hanya berdampak pada rasa lelah dan penurunan konsentrasi saat beraktivitas di keesokan harinya. Namun, ternyata kebiasaan tidur larut memiliki dampak kesehatan yang lebih luas, salah satunya adalah meningkatkan risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan.
Kondisi ini terjadi karena saat tubuh kurang istirahat, keseimbangan hormon dan fungsi sistem pencernaan dapat terganggu. Tidur yang tidak cukup dapat melemahkan otot sfingter esofagus bagian bawah, yaitu katup yang berfungsi mencegah isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Ketika katup ini tidak bekerja secara optimal akibat kelelahan ekstrem atau gangguan ritme sirkadian, asam lambung lebih mudah mengalir naik, yang kemudian menimbulkan sensasi terbakar di dada atau heartburn.
Selain itu, orang yang sering begadang cenderung memiliki pola makan yang tidak teratur. Kebiasaan mengonsumsi camilan berat atau minuman berkafein di malam hari untuk menahan kantuk justru memperburuk kondisi lambung. Konsumsi makanan tepat sebelum tidur membuat lambung bekerja lebih keras saat tubuh seharusnya beristirahat, sehingga tekanan dalam lambung meningkat dan memicu refluks asam.
Untuk mencegah hal tersebut, sangat disarankan untuk menjaga pola tidur yang konsisten dan menghindari makan besar menjelang waktu tidur. Mengatur jadwal istirahat yang cukup tidak hanya memulihkan energi fisik, tetapi juga menjaga fungsi katup pencernaan tetap bekerja normal sehingga risiko gangguan asam lambung dapat diminimalisir.






